[PDF / Epub] ☉ Bunga di atas Batu Author Aesna – Motyourdrive.co.uk


  • Paperback
  • 132 pages
  • Bunga di atas Batu
  • Aesna
  • Indonesian
  • 13 July 2019
  • 9789797958428

10 thoughts on “Bunga di atas Batu

  1. says:

    Dear Aesna yang baik,Aku sudah menyelesaikan bukumu mungkin saat kau masih menunggu hasil kelulusan di perguruan tinggi Sebelum kabar yang buruk ini kusampaikan, aku mendukungmu dalam doa, supaya nanti bisa diterima dan berkuliah di Sastra UGM, tempat yang kau inginkan, sebagaimana Bara yang berkuliah di kampus yang menakjubkan itu Tapi doa yang terakhir ini, bukan berarti untuk bermanis manis menyampaikan kritik berikut ini.Aku mulai surat ini dari judul bukumu yang memberiku harapan Sempat aku menaruh harapan tinggi tinggi, rupanya ada penulis muda yang menulis novel remaja dengan sentuhan yang kalau boleh aku katakan sebutlah ada aromanya sastranya Tapi, ini bukan soal label sastra atau tidak Judulmu bagi remaja sepertiku yang senang dengan hal hal semacam sastra, adalah kabar menggembirakan dari dunia buku anak muda Dan saat itu kupuji Moka dengan pemilihan judul yang bernapas metafora demikian Begitu pula dengan blurb di kulit belakang Ini tidak seperti blurb penerbit tetangga yang kerap dibuat menggoda, namun kadang membuat pembaca tertipu Isi dan blurbnya seperti beda kutub, satu ke selatan satu ke utara, semakin memperjelas kesan jualan Tidak dengan blurbmu yang setelah kutamatkan cerita tokohmu yang namanya lucu itu, aku tahu ternyata itu dinukilkan dari surat yang ditulis Bara untuk Iris.Sampai di bagian ini, aku masih dalam keadaan jadi pembaca yang berbahagia Sampai aku memulai kata pertama, dan terhenti pada kutipan Antoine de Saint Exup ry, seolah ini adalah appetizer yang mewah Kemudian kupasrahkan pikiran, mata dan hati untuk masuk kisahmu Darisanalah, dari awal sekali, ada yang terkikis dari harapanku Melihat sampul yang menggambarkan rumah pohon, aku berharap, cerita ini akan diawali dari tempat itu Jarang jarang, remaja zaman sekarang masih ada waktu untuk bermain di rumah pohon, karena mereka mendekam di rumah yang bernama social media Jadi, kupikir Bara adalah karakter langka Aku bahkan merasakan rumah pohon hanya tempelan latar yang tidak mendukung kisah melankolis karakter Bara, yang kalau kata istilah anak zaman sekarang, keduanya terjebak zona teman.Premis zona teman, tidak juga tereksplorasi dengan baik Padahal, jarang juga penulis laki laki bermain dengan tema itu, karena selama ini zona teman kerap diceritakan dari sudut pandang penulis perempuan yang dalam kehidupan sehari hari di realitas, untuk perkara terjebak friendzone, perempuan kerap jadi korban perasaan akibat sang sahabat laki lakinya merasa hubungan mereka hanyalah pertemanan, tidak lebih walaupun laki laki boleh jadi juga jadi korbannya, sebagaimana Bara Ada banyak tempelan yang terlepas sama sekali, seperti kau sedang merekatkan kembali tapak sepatu dengan lem abal abal, sehingga tapak sepatu itu menganga lagi, dan lagi Akibat perekatnya tidak kuat Tapak sepatu itu adalah cerita Iris dan Baramu Lem itu adalah kutipan film A Z atau puisi puisi penyair atau penulis A Z yang berjejalan sepanjang novelmu Harusnya, kau cari lem yang kuat, sehingga tapak sepatunya bisa menyatu dan yang memakainya pembaca bisa menapak dengan leluasa Sayang sekali, padahal di sana bertaburan kisah kisah tentang apa yang ditonton karakternya, yang selalu teringat puisi A, padahal aku tak mengerti juga, benarkah mereka berdua ini Iris dan Bara adalah dua anak remaja penikmat sastra, atau hanya pengarang yang terdesak untuk bermanis manis dengan kutipan kutipan itu Meski aku sudah menyelesaikan petualangan cinta Iris dan Bara, tak ada bekas apa apa selain mengernyitkan dahi, mempertanyakan kenapa dengan begitu cepat cerita ini selesai, lantas tiba tiba sampai epilog yang gasal Padahal dari bab ke bab, ada bagian yang menuntut penjelasan Tapi tak perlu kutulis panjang panjang, dan aku tak mau menyiksamu.Aesna, tapi aku suka sekali pada surat yang ditulis Bara untuk Iris, seolah itu adalah surat yang dikirimkan Ibuku dari surga Dan memang pantas itu dinukilkan di sampul belakang Sampai aku jadi tertarik menuliskan ini, sebagaimana kalimat Bara yang indah Kritikku ini, adalah cara lain aku menyampaikan, bahwa aku berharap di bukumu yang berikutnya, kau bisa lebih baik Aku pun cukup kagum, ternyata buku ini adalah hadiah terindah darimu untuk sekolah dan kotamu, Tangerang Sampai aku merasa menyesal, kenapa tidak membalas budi perpustakaan sekolahku di Padang yang bukunya kerap kupinjam, namun tak ada kutinggalkan apa apa begitu aku meninggalkan sekolah untuk pergi belajar ke kota ini Dan, kotamu juga patut bangga, ada seorang yang bermukim di dalamnya, menuliskah kisah yang berlatar di sana.Suratku itu saja Teruslah menulis, Aesna, dan perlu kita rayakan, bahwa masih panjang waktu kita untuk berproses Semoga kita bisa menulis dalam usia yang panjang.P.S Senang bertemu denganmu Minggu lalu Semoga bisa bertemu lain waktu.


  2. says:

    Resensi juga bisa dibaca di sini Bunga di Atas BatuPenulis AesnaPenerbit Moka MediaHlm Ukuran iii 129 hlm 12,7 x 19 cmTerbit 2014 cetakan pertama ISBN 979 795 842 6Genre Novel remajaKALA CINTA TUMBUH DI TEMPAT YANG SALAHAda yang menarik dari talk show 4 Penulis 4 Cerita Cinta yang diadakan Moka Media awal Juli lalu Aesna salah satu penulis yang diundang menjadi narasumber menceritakan makna yang terkandung dalam judul novelnya.Dia menganalogikan kisah cinta yang dituangkan dalam novelnya itu sebagai bunga yang tumbuh di atas batu, alih alih di tanah yang subur dan gembur Cinta tersebut tumbuh di tempat yang tidak semestinya Layaknya cinta Bara yang malah mekar untuk Iris, sahabatnya sejak kecil.Alhasil, Bara pun mengalami pergolakan batin, bingung dalam memilih sikap Dia ingin Iris menjadi lebih dari sekadar sahabat, tapi di lain pihak dia tidak ingin persahabatan mereka selama ini malah hancur hanya gara gara sebuah penolakan Istilah anak muda sekarang friendzone Dilema itulah yang Bara alami.Nyaris sepanjang cerita saya terus menerus dibuat geregetan Sayangnya, bukan tipe geregetan yang menyenangkan melainkan lebih berupa luapan frustrasi Saya mengharapkan ada dinamika cinta tarik ulur, malu malu kucing, atau jinak jinak merpati dalam hubungan antara Bara dan Iris.Nyatanya, penggarapan karakter bahkan chemistry antara keduanya malah miskin sekali Saya tidak merasakan mereka sebagai sahabat sedari kecil yang sama sama kesepian karena kedua orangtua mereka sibuk bukan main Saya menganggap mereka seperti dua orang asing yang kebetulan punya kegalauan yang sama dan hobi bertemu di rumah pohon Dan, hei, bahkan rumah pohonnya sendiri tidak lebih dari sekadar setting tempelan yang kemudian terlupakan Ini amat sangat disayangkan sebab saya tidak ingat kapan terakhir kali membaca novel Indonesia yang punya setting rumah pohon Entah apa yang menyebabkan novel ini terasa tidak tergali Barangkali karena novelnya yang tipis, sehingga nyaris semua bagian dan adegan di novel ini terasa bagaikan pulasan angin lalu saja Barangkali karena kisahnya yang seakan ditempel asal asalan alih alih dirajut dengan cantik Adegan yang seharusnya memperkaya emosi atau memberi dampak pada cerita misalkan kematian sang ibu justru tidak berkesan sama sekali Ternyata tidak selamanya novel yang tipis itu efektif dalam menuturkan isinya Yang jelas, mengharapkan adanya koneksi antara Bara dan Iris sama sulitnya dengan memaksakan dua kabel pendek untuk saling tersambung.Dan, untuk novel setipis ini, penggarapan editingnya pun terasa kurang Masih banyak saya temukan kesalahan penulisan kata yang tercecer di sana sini membuat saya gemas hembus , nafas , kesini , apapun Saya jadi sempat bertanya tanya, ada apa dengan editornya Tapi, terlepas dari itu semua, bukan berarti Bunga di Atas Batu tidak layak baca Ada beberapa bagian yang mengasyikkan, seperti latar belakang Hilman memacari Iris, pertengkaran Bara dan Hilman, serta surat untuk Iris Rasanya, ketimbang dijadikan novel yang canggung dalam bercerita serta tanggung dalam jumlah halaman cerita ini lebih bernas jika dijadikan novela dengan memaksimalkan adegan adegan tersebut Dan, epilog nya adalah sebuah penutup yang membuat saya yakin kalau Aesna bisa menulis Kebetulan saya menyukai open ending dan Aesna menggarap penutup novelnya ini dengan cukup manis.Jika Bunga di Atas Batu adalah perumpamaan cinta yang tumbuh di tempat yang tidak tepat, saya rasa Aesna cukup berhasil mengisahkannya meski dengan terburu buru Akan tetapi, setelah Aesna mengungkapkan pemaknaan judul novelnya itu di acara talk show, saya sempat memikirkan sebuah analogi lain.Saya memaknai bunga di atas batu sebagai representasi kekuatan cinta yang bisa tumbuh di lingkungan serta situasi sesulit apa pun, hingga mekarnya sanggup membawa keindahan Sebuah anomali yang tampaknya gagal bersemi di novel ini.Tapi, ah, itu kan hanya ekspektasi saja Yang jelas, saya sepertinya akan menantikan karya karya Aesna selanjutnya Dia memiliki potensi sebagai penulis muda berbakat dan tampaknya gemar melahap banyak buku buku yang bagus.Penilaian 2 5 AdhamTFusama


  3. says:

    Aesna, sekali lagi saya ucapkan selamat atas novel pertamamu ini Salut, masih remaja tapi sudah berkarya Banyak memang remaja yang berkarya sepertimu, tapi masih jauh lebih banyak lagi yang hanya menikmati karya orang lain saja Bukan berkarya secara nyata Saya salah satunya, hehe, eh tapi saya bukan remaja lagi siih. Nah, justru itu masa kalah sama remaja Pas baca blurbnya, wah, berat nih pikir saya Ternyata emang iya, buat saya yang awam sastra sih begitu Saya udah terlanjur suka baca novel dengan cara bercerita yang nggak terlalu nyastra tapi tetap punya makna Ini bukan berarti novel kamu nggak bagus Mungkin kalau saya ngerti sastra, akan berbeda kesannya Sejauh yang bisa saya pahami, inti ceritanya nggak rumit Berkisah tentang sepasang remaja, yaitu Bara yang memendam cinta pada Iris, sahabatnya Bara hanya bisa melampiaskan rasa sukanya pada Iris melalu lukisan dan sketsa yang dia buat Hingga akhirnya ketika ia memutuskan untuk mengambil beasiswa ke luar negri, Bara mengungkapkannya Nggak secara langsung, tapi melalui surat yang dititipkannya pada seorang teman.Saya mulai menikmati membacanya justru saat Bara pergi, dan nggak nyangka udah dihalaman terakhir Endingnya gantung, eh, apa ini emang saya aja yang nggak nyampe ya Terus berkarya ya Aesna, mumpung masih muda saya bilang gitu harusnya sambil ngaca, hehe


  4. says:

    dear Aesna yang baik.Aku suka sekali membaca narasimu Manis dan lancar tetapi juga terlalu datar Selama membaca buku ini aku tidak menemukan emosi apa apa yang mengaitkanku dengan tokoh tokoh di dalam cerita Kupikir itu mungkin karena banyak lubang lubang dalam novelmu dikarenakan banyak sekali bagian dari naskahmu yang mungkin terbuang hihihi aku dapat bocoran Sama seperti buku Moka yang lain Song of Will aku juga suka sekali kutipan kutipan yang kamu sertakan di awal bab, karena itu, kurasa kamu tidak perlu lagi mengutip banyak puisi atau yg lainnya di dalam cerita yang seringkali ditemui di setiap akhir bab.Well, itu saja dulu Aku akan memperbaiki review ini setelah membaca utuh naskahmu.salam.


  5. says:

    bingung gmn reviunya ntar blas gak dapet feelingnya euy, hehe belum lagi banyak catatan untuk editor mengenai masalah ejaan dan kebakuan tapi via e mail aja kali ya rincinya oh ya bisa baca cepat karena memang tipis aja sih dan aku juga lagi santai resensi lengkap


  6. says:

    Why 3 starts Ceritanya ringan, cocok buat remaja, mudah dipahamin, tapi itu yang buat jadi gak penasaran.Tapi satu yg ga berubah dari penulisnya Diksi.Dari novel pertama dan keduanya, gue suka sama diksi nya Gue juga suka cara penulis ngerangkai kata katanyanya Haha


  7. says:

    Review bisa dibaca di


  8. says:

    PERASAAN YANG LUAR BIASA


  9. says:

    Kavernya bagus.


  10. says:

    Senang membaca buku ini.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bunga di atas Batucharacters Bunga di atas Batu, audiobook Bunga di atas Batu, files book Bunga di atas Batu, today Bunga di atas Batu, Bunga di atas Batu 74d64 Iris Yang Baik,Setelah Kupertimbangkan Masak Masak, Beginilah Akhirnya Cara Yang Kupilih Bukan Supaya Diriku Terelak Dari Duka Perpisahan Ketahuilah, Pada Huruf Huruf Terakhir Setiap Kata Yang Kutulis, Kesedihan Menderaku Tanpa Ampun Bagaikan Pesuruh Zeus Mendera Prometeus Yang Malang Bukankah Kamu Menyukai Dongeng Dongeng Yunani Kutahankan Rasa Sakit Itu Demi Hal Hal Yang Mungkin Bisa Kujelaskan Lebih Baik Secara Tertulis Ketimbang Dibicarakan Langsung Jika Terasa Tidak Adil, MaafkanlahManakala Surat Ini Sampai Padamu, Telah Jauh Aku Meninggalkan Rumah Dan Tempat Rahasia Kita Tapi Yakinlah, Jarak Di Antara Dua Manusia Bukan Melulu Perkara Terlihat Atau Tidaknya Sosok, Terdengar Atau Tidaknya Suara, Terasa Atau Tidaknya Sentuhan, Terhirup Atau Tidaknya Aroma Masing Masing Selama Ini, Misalnya, Dengan Bertemu Setiap Hari, Seberapa Dekat Sebenarnya Hati Kita Seberapa Banyak Kau Mengerti Perasaanku Atas Dirimu Dan Sebaliknya


About the Author: Aesna

Aesna, konon ia mencari nama penanya dengan kontemplasi yang sangat lama di pinggiran Danau Cipondoh Dari danaunya berwarna biru bening sampai mendekati kehitaman Hidup dengan menggantungkan harapan pada Tuhan dan alam, maka ia memilih hidup nomaden sebab harapannya kadang berpindah dari jiwa yang satu ke jiwa yang lain ia meyakini bahwa semua yang ada di alam pantas diberi harapan Tidak terla